MATINYA SEPASANG PENGANTEN
Karya : Ahmad Fanani
Mosah
(Broadcaster Radio
Arsega FM & Guru SMP Negeri 3 Babat- Lamongan)
KEDUA Belah
pihak calon besan : dari pihak pengantin wanita dan pengantin pria itu sepakat
tidak mengadakan “ritual” lamaran. Tidak ada kunjungan balasan. Apa guna sih, jajan kok diendang-endeng
ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. Adat kebiasaannya, besan sana datang membawa
oleh-oleh. Kemudian besan sini ganti unjung-unjung balasan membawa gawan
yang tidak sedikit. Keduanya tentu saling mengeluarkan banda-rupa.
Bermegah-megahan dan bermewah-mewahan soal pangan.
Ini mereka sepakati karena Indonesia
dan negara-negara lain secara umum dilanda pandemi. Covid – 19 yang berwujud
virus corona itu telah mengguncang dunia. Gegara ini pula banyak even perhelatan
yang sudah diprogram matang-matang, gagal dalam perjalanan. Kedua ortu pengantin
pria cukup bertamu saja. Minangka silaturrohmi biasa. Intinya rembugan tentang pelaksanaan aqdun-nikah. Sebab
kedua calon pengantin sudah sama-sama dewasa. Sama-sama mampu mebuka jalan
pikiran masing-masing menuju masa depan yang gemilang.
“Begini
lho San,…Besan. Saya khawatir jangan-jangan seperti yang ada di video yang
sudah viral itu. Ada orang hajatan dengan sangat mewah sekali. Diobrak polisi.
Disuruh menggagalkan. Padahal kuade dan panggung pengantin sudah terpasang.
Lengkap dengan tarop, kursi, sound system, perusahaan shoting &
photographi, serta catering mewah lagi. Mau nggak mau harus buyar. Lha
itu sudah banda berapa juta sudah. Muspra. Tanpa guna. Eman-eman,
kan…?!” ungkap ortu dari pengantin pria, panjang lebar.
“Iya, kami juga sudah paham. Makanya
besok itu akad nikah di rumah sini, secara sangat-sangat di bawah sederhana.
Kan logis toh, di rumah mempelai wanita. Audeins tidak perlu
banyak-banyak. Cukup sekeluarga. Seisi rumah sini ditambah tetangga beberapa
orang saja….!” balas calon besan dari mempelai wanita.
“Oke, setuju…! Kami juga membawa
pengiring nggak banyak-banyak. Cukup dulur-dulur dari keluarga
sendiri saja…!” sahut ayah dari mempelai pria. “Adapun toh nanti kapan-kapan
kita kepingin ngerowa, ingin mengadakan pesta, resepsi, meramaikan acara
dengan mengundang para kolega, monggo, setelah pagebluk corona sirna. Bukan
begitukah, San, Besan…?!” lanjut dari keluarga penganten lelaki.
Keluarga calon besan mempelai
putri hanya mengiyakan sambil
menganggukkan kepala. Pertanda setuju apa yang diomongkan oleh calon besan
penganten putra.
“Lha sekarang mari kita mencari hari
yang baik, San ! Kapan untuk akad nikahnya….?” tanya bapaknya pengantin pria.
“Soal pemilihan hari, saya rasa
semua hari itu baik. Yang menjadi perhitungan saya adalah sama-sama ada
kesempatan. Kami dari pihak mempelai putri bisa melaksanakan, sampean dari
keluarga penganten putra punya waktu luang, gitu…!” argumen ilmiah dari pihak
putri.
Sementara dari pihak putra hanya
menundukkan kepala. Senyum kecil. “Lha monggo kita sama-sama cari
kesempatan waktu luang…” balas keluarga putra.
“Biasanya kami melaksanakan hajatan
apa saja, kami pilih gari minggu…!” jawab besan tuan rumah. “Sebab hari minggu
itu banyak yang libur. Barangkali keluarga sedikit-banyak bisa memberikan doa
restu, gitu…!” lanjut si tuan rumah
mantap.
“Oke, monggo dipilih hari
minggu yang mana…?” pinta besan tamu.
* * * * * * * * * * * * * * * *
Prosesi
aqdun-nikah berjalan hikmat dan lancar. Nggak usah berlama-lama. Tanpa
ada protokoler acara. Yang ada cukup protokoler kesehatan, himbauan dari pemerintah saja. Dan ini sudah diterapkan. Pak Naib beserta
petugas pencatat nikahpun langsung pamitan pulang setelah menunaikan tugasnya.
Tidak kersa diaturi dhaharan. Tanpa ba-bi-bu tuan rumah mempersilahkan
saja. Mengantarkan rombongan Pak Naib hingga ke halaman depan. Serta merta ayah
kandung dari mempelai wanita itu memberi salam tempel kepada 2 (dua) tamu
kehormatannya. Tidak lupa pula ngaturi ubo-rampen-nya. Berupa bingkisan
berisi sesuatu yang sudah di persiapkan oleh orang-orang belakang.
Tuan
rumah segera bergabung lagi dengan para tetamunya yang nota bene adalah
besannya sendiri beserta keluarganya. Walaupun dengan pembatasan undangan
sejatinya masih ada rasa was-was dari tuan rumah. Khawatir. Jangan-jangan
diobrak oleh pihak berwajib. Tapi hingga acara akad nikah yang diramu
silaturrohmi antara dua keluarga itu, hingga usai pertemuan tak ada seorangpun
dari pihak berwajib yang membubarkan pertemuan singkat, padat dan sangat di bawah sederhana itu.
Setelah
tamu besan beserta sedikit romnbongannya pamitan undur diri, di ruamah yang
sederhana itu pun sepi seperti sediakala. Seolah tak terjadi apa-apa. Memang
beginilah yang dikehendaki semua pihak. Baik itu besan sana, besan sini, maupun
pemerintah. Boleh mengadakan pertemuan asal dalam skop yang kecil.
Pengantin
barupun tanpa ada yang menyuruh, mereka
berdua memasuki kamar yang telah dipersiapkan. Tidak lain adalah kamar
keseharian yang dipakai tidur dan segala aktifitas pribadi dari mempelai
wanita. Dasar seorang wanita. Pandai betul menata tata-letak kamar itu menjadi
suasana dan pemandangan yang indah menawan. Sementara semerbak parfum yang kalem
telah dihirup oleh pengantin pria. Tentu lebih menambah nafsu dan gairah.
Bertambah semakin menggelora. Semangat pemuda pejuang ’45 tak dapat terelakkan
lagi.
Seolah
ada yang menuntun saja. Tangan mereka saling berpegangan. Saling bertautan.
Sang pengantin pria pelan-pelan membuka gaun istrinya yang dipakai akad nikah
tadi. Sementara mempelai wanita berbalas membuka jas dan dasi yang tadi juga
dipakainya ijab-qobul. Dengan pemanasan yang cukup panas, dua insan yang baru
saja diijab-qobulkan oleh Pak Naib itu lancar-lancar saja dalam menunaikan
tugasnya sebagai suami-istri. Tidak ada kendala maupun kesulitan sama sekali.
* * * * * * * * * * * * * * *
Tiga
bulan sudah pasangan pengantin baru itu hidup bergelimangan penuh
kenikmatan. Namun sayang disayang seribu
sayang. Pasangan muda belia itu sama-sama mengeluh sakit. Badan tidak enak.
Lama-lama gelagat tidak sehat yang menimpa fisik anak dan menantu itu diketahui oleh keluarga mempelai putri. Atas
dasar saran dari keluarga itu, mereka berdua mau diajak ke rumah sakit.
Setelah
keduanya menjalani beberapa test yang diperlukan, mereka berdua harus opname.
Kebetulan di klinik itu tersedia fasilitas dan layanan rawat inap. Menurut
analisa dari beberapa tenaga medis yang merawat pengantin baru itu, penyakitnya
sudah bisa dibilang parah. Stadium tinggi. Meski demikian, dokter masih tetap
berjuang memberantas keluhan dan penyakitnya berdasar test-test yang pernah
dilakoni pasangan muda itu.
\Namun
apa yang terjadi. Gusti Alloh berkehendak beda. Manusia berusaha. Alloh yang
menentukan. Nyawa keduanya tak dapat ditahan. Malaikat Izroil mencabutnya
secara bersamaan. Dua sejoli yang dirawat dalam satu kamar di klinik itu
menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka berdua meninggalkan dunia selamanya.
Menuju alam baka. Kematianlah yang mereka tahapi, setelah hidup di dunia yang
mereka jalani.
Dalam
sekian detikpun sudah tersebar kabar, bahwa dua pasangan pengantin baru itu
meninggal gara-gara terkena virus corona. Ini bisa dimaklumi. Karena memang
lagi musim marak-maraknya covid-19 yang ganas. Apalagi tersiarnya berita seputar kematian dua sejoli yang
barusaja menjalani bulan madu itu lewat WA HP android yang sangat cepat sampai
kepada para pemiliknya.
Dengan
langkah bijak pula, beberapa saat kemudian, dokter yang menanganipun segera
memannggil kedua orangtua pasien itu. Jadi semenjak akad nikah yang
dilaksanakan 3 (tiga) bulan lalu, baru kali itulah kedua besan itu bertemu
lagi. Dengan nada tenang dan penuh kehati-hatian Pak Dokter senior itu
menuturkan kepada 2 bapak berbesan yang lugu-lugu. Maklum sama-sama dari daerah
udik. Sama-sama dari pelosok pedesaan.
Dokter
bilang bahwa penyebab kematian pengantin baru ini bukan karena virus corona
yang didesas-desuskan orang yang tidak paham dan tidak bertanggungjawab. Dokter pesan, bilang saja bukan gara-gara
corona. Tapi sebab lain. Nah, sebab lain ini tidak perlu didengar orang.
Termasuk keluarga sendiri. Meskipun itu orangtua sendiri. Sebab hal ini
menyangkut sumpah jabatan seorang dokter. Yang di dalamnya terdapat etika kedokteran
dalam menangani pasien yang terdampak penyakit-penyakit tertentu.
Bagi
beberapa sahabat karib pengantin pria dan wanita, sudah
pada paham. Karena pertemuan dan perkenalan dua sejoli yang akhirnya
mengikuti syareat itu, di kompleks rumah bordil. Pusat pelacuran. Mereka berdua
: si cowok dan si ceweknya memadu kasih. Mengumbar janji sehidup-semati. Tak
ayal pula mereka sering bertemu di kamar pasewan milik germonya.
Oalaaahhh…Gak
layak…! Makanya ketika malam pertama kok lancar-lancar saja. Tanpa rikuh
dan tanpa kesulitan. Rupanya pengantin berdua sudah sama-sama pengalaman, ya…? Ha…ha…ha..ha…… = = = =(Karya
: Ahmad Fanani Mosah,
Broadcaster
Radio Arsega FM & Guru SMP Negeri 3 Babat- Lamongan).
= = = = = = = =
= = = = = = = = = = = = =
BIODATA NARASI
Nama yang sering
terpajang di media cetak tertulis AHMAD FANANI MOSAH. Kemudian di kolega
dekatnya menyapa dengan panggilan Bung Mosah. Padahal nama belakang itu adalah
akronim dari kedua orangtuanya : Mosin & Muslihah (Mosah). Tampaknya inilah
yang menjadi hoki tersendiri bagi pria yang sering bercuap-cuap di udara Radio
Arsega FM dan di blantika panggung entertainment. Pak guru yang berdinas di SMP
Negeri 3 Babat – Lamongan itu punya tanggal lahir 15 September 1963. Berzodiac
Virgo Boy. Bagi yang ingin berdialog lewat HP/WA akan dilayani dengan senang
hati : 085749836848. Karya literasinya sudah banyak yang diterbitkan UIN Maliki
Press Malang, antara lain : “Beginilah Seharusnya” , “Kumpulan Dongeng
Anak-anak”, “Kumpulan Cerpen Remaja”, Novel “Impian Bulan Bercahaya Di Korea”, Buku
Materi “Pembinaan Karakter Anak Bangsa”, “Lagu-lagu Islami & Pramuka”, dsb. =
= = = = = =
Tidak ada komentar:
Posting Komentar