Senin, 08 Agustus 2022

MATINYA SEPASANG PENGANTEN

 

MATINYA SEPASANG PENGANTEN



Karya : Ahmad Fanani Mosah

(Broadcaster Radio Arsega FM & Guru SMP Negeri 3 Babat- Lamongan)

 

            KEDUA Belah pihak calon besan : dari pihak pengantin wanita dan pengantin pria itu sepakat tidak mengadakan “ritual” lamaran. Tidak ada kunjungan balasan.  Apa guna sih, jajan kok diendang-endeng ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. Adat kebiasaannya, besan sana datang membawa oleh-oleh. Kemudian besan sini ganti unjung-unjung balasan membawa gawan yang tidak sedikit. Keduanya tentu saling mengeluarkan banda-rupa. Bermegah-megahan dan bermewah-mewahan soal pangan.

            Ini mereka sepakati karena Indonesia dan negara-negara lain secara umum dilanda pandemi. Covid – 19 yang berwujud virus corona itu telah mengguncang dunia. Gegara ini pula banyak even perhelatan yang sudah diprogram matang-matang, gagal dalam perjalanan. Kedua ortu pengantin pria cukup bertamu saja. Minangka silaturrohmi biasa. Intinya rembugan  tentang pelaksanaan aqdun-nikah. Sebab kedua calon pengantin sudah sama-sama dewasa. Sama-sama mampu mebuka jalan pikiran masing-masing menuju masa depan yang gemilang.

“Begini lho San,…Besan. Saya khawatir jangan-jangan seperti yang ada di video yang sudah viral itu. Ada orang hajatan dengan sangat mewah sekali. Diobrak polisi. Disuruh menggagalkan. Padahal kuade dan panggung pengantin sudah terpasang. Lengkap dengan tarop, kursi, sound system, perusahaan shoting & photographi, serta catering mewah lagi. Mau nggak mau harus buyar. Lha itu sudah banda berapa juta sudah. Muspra. Tanpa guna. Eman-eman, kan…?!” ungkap ortu dari pengantin pria, panjang lebar.

            “Iya, kami juga sudah paham. Makanya besok itu akad nikah di rumah sini, secara sangat-sangat di bawah sederhana. Kan logis toh, di rumah mempelai wanita. Audeins tidak perlu banyak-banyak. Cukup sekeluarga. Seisi rumah sini ditambah tetangga beberapa orang saja….!” balas calon besan dari mempelai wanita.

            “Oke, setuju…! Kami juga membawa pengiring nggak banyak-banyak. Cukup dulur-dulur dari keluarga sendiri saja…!” sahut ayah dari mempelai pria. “Adapun toh nanti kapan-kapan kita kepingin ngerowa, ingin mengadakan pesta, resepsi, meramaikan acara dengan mengundang para kolega, monggo,  setelah pagebluk corona sirna. Bukan begitukah, San, Besan…?!” lanjut dari keluarga penganten lelaki.

            Keluarga calon besan mempelai putri  hanya mengiyakan sambil menganggukkan kepala. Pertanda setuju apa yang diomongkan oleh calon besan penganten putra.

            “Lha sekarang mari kita mencari hari yang baik, San ! Kapan untuk akad nikahnya….?” tanya bapaknya pengantin pria.

            “Soal pemilihan hari, saya rasa semua hari itu baik. Yang menjadi perhitungan saya adalah sama-sama ada kesempatan. Kami dari pihak mempelai putri bisa melaksanakan, sampean dari keluarga penganten putra punya waktu luang, gitu…!” argumen ilmiah dari pihak putri.

            Sementara dari pihak putra hanya menundukkan kepala. Senyum kecil. “Lha monggo kita sama-sama cari kesempatan waktu luang…” balas keluarga putra.

            “Biasanya kami melaksanakan hajatan apa saja, kami pilih gari minggu…!” jawab besan tuan rumah. “Sebab hari minggu itu banyak yang libur. Barangkali keluarga sedikit-banyak bisa memberikan doa restu, gitu…!” lanjut  si tuan rumah mantap.

            “Oke, monggo dipilih hari minggu yang mana…?” pinta besan tamu.

 

* * * * * * * * * * * * * * * *

Prosesi aqdun-nikah berjalan hikmat dan lancar. Nggak usah berlama-lama. Tanpa ada protokoler acara. Yang ada cukup protokoler kesehatan, himbauan  dari pemerintah saja.  Dan ini sudah diterapkan. Pak Naib beserta petugas pencatat nikahpun langsung pamitan pulang setelah menunaikan tugasnya. Tidak kersa diaturi dhaharan. Tanpa ba-bi-bu tuan rumah mempersilahkan saja. Mengantarkan rombongan Pak Naib hingga ke halaman depan. Serta merta ayah kandung dari mempelai wanita itu memberi salam tempel kepada 2 (dua) tamu kehormatannya. Tidak lupa pula ngaturi ubo-rampen-nya. Berupa bingkisan berisi sesuatu yang sudah di persiapkan oleh orang-orang belakang. 

Tuan rumah segera bergabung lagi dengan para tetamunya yang nota bene adalah besannya sendiri beserta keluarganya. Walaupun dengan pembatasan undangan sejatinya masih ada rasa was-was dari tuan rumah. Khawatir. Jangan-jangan diobrak oleh pihak berwajib. Tapi hingga acara akad nikah yang diramu silaturrohmi antara dua keluarga itu, hingga usai pertemuan tak ada seorangpun dari pihak berwajib yang membubarkan pertemuan singkat, padat  dan sangat di bawah sederhana itu.

Setelah tamu besan beserta sedikit romnbongannya pamitan undur diri, di ruamah yang sederhana itu pun sepi seperti sediakala. Seolah tak terjadi apa-apa. Memang beginilah yang dikehendaki semua pihak. Baik itu besan sana, besan sini, maupun pemerintah. Boleh mengadakan pertemuan asal dalam skop yang kecil.

Pengantin barupun  tanpa ada yang menyuruh, mereka berdua memasuki kamar yang telah dipersiapkan. Tidak lain adalah kamar keseharian yang dipakai tidur dan segala aktifitas pribadi dari mempelai wanita. Dasar seorang wanita. Pandai betul menata tata-letak kamar itu menjadi suasana dan pemandangan yang indah menawan. Sementara semerbak parfum yang kalem telah dihirup oleh pengantin pria. Tentu lebih menambah nafsu dan gairah. Bertambah semakin menggelora. Semangat pemuda pejuang ’45 tak dapat terelakkan lagi.

Seolah ada yang menuntun saja. Tangan mereka saling berpegangan. Saling bertautan. Sang pengantin pria pelan-pelan membuka gaun istrinya yang dipakai akad nikah tadi. Sementara mempelai wanita berbalas membuka jas dan dasi yang tadi juga dipakainya ijab-qobul. Dengan pemanasan yang cukup panas, dua insan yang baru saja diijab-qobulkan oleh Pak Naib itu lancar-lancar saja dalam menunaikan tugasnya sebagai suami-istri. Tidak ada kendala maupun kesulitan sama sekali.

 

* * * * * * * * * * * * * * *

 

Tiga bulan sudah pasangan pengantin baru itu hidup bergelimangan penuh kenikmatan.  Namun sayang disayang seribu sayang. Pasangan muda belia itu sama-sama mengeluh sakit. Badan tidak enak. Lama-lama gelagat tidak sehat yang menimpa fisik anak dan menantu itu  diketahui oleh keluarga mempelai putri. Atas dasar saran dari keluarga itu, mereka berdua mau diajak ke rumah sakit.

Setelah keduanya menjalani beberapa test yang diperlukan, mereka berdua harus opname. Kebetulan di klinik itu tersedia fasilitas dan layanan rawat inap. Menurut analisa dari beberapa tenaga medis yang merawat pengantin baru itu, penyakitnya sudah bisa dibilang parah. Stadium tinggi. Meski demikian, dokter masih tetap berjuang memberantas keluhan dan penyakitnya berdasar test-test yang pernah dilakoni pasangan muda itu.

\Namun apa yang terjadi. Gusti Alloh berkehendak beda. Manusia berusaha. Alloh yang menentukan. Nyawa keduanya tak dapat ditahan. Malaikat Izroil mencabutnya secara bersamaan. Dua sejoli yang dirawat dalam satu kamar di klinik itu menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka berdua meninggalkan dunia selamanya. Menuju alam baka. Kematianlah yang mereka tahapi, setelah hidup di dunia yang mereka jalani.

Dalam sekian detikpun sudah tersebar kabar, bahwa dua pasangan pengantin baru itu meninggal gara-gara terkena virus corona. Ini bisa dimaklumi. Karena memang lagi musim marak-maraknya covid-19 yang ganas. Apalagi tersiarnya  berita seputar kematian dua sejoli yang barusaja menjalani bulan madu itu lewat WA HP android yang sangat cepat sampai kepada para pemiliknya.

Dengan langkah bijak pula, beberapa saat kemudian, dokter yang menanganipun segera memannggil kedua orangtua pasien itu. Jadi semenjak akad nikah yang dilaksanakan 3 (tiga) bulan lalu, baru kali itulah kedua besan itu bertemu lagi. Dengan nada tenang dan penuh kehati-hatian Pak Dokter senior itu menuturkan kepada 2 bapak berbesan yang lugu-lugu. Maklum sama-sama dari daerah udik. Sama-sama dari pelosok pedesaan.

Dokter bilang bahwa penyebab kematian pengantin baru ini bukan karena virus corona yang didesas-desuskan orang yang tidak paham dan tidak bertanggungjawab.  Dokter pesan, bilang saja bukan gara-gara corona. Tapi sebab lain. Nah, sebab lain ini tidak perlu didengar orang. Termasuk keluarga sendiri. Meskipun itu orangtua sendiri. Sebab hal ini menyangkut sumpah jabatan seorang dokter. Yang di dalamnya terdapat etika kedokteran dalam menangani pasien yang terdampak penyakit-penyakit tertentu.

Bagi beberapa sahabat karib pengantin pria dan wanita,  sudah  pada paham. Karena pertemuan dan perkenalan dua sejoli yang akhirnya mengikuti syareat itu, di kompleks rumah bordil. Pusat pelacuran. Mereka berdua : si cowok dan si ceweknya memadu kasih. Mengumbar janji sehidup-semati. Tak ayal pula mereka sering bertemu di kamar pasewan milik germonya.

Oalaaahhh…Gak layak…! Makanya ketika malam pertama kok lancar-lancar saja. Tanpa rikuh dan tanpa kesulitan. Rupanya pengantin berdua sudah  sama-sama pengalaman, ya…? Ha…ha…ha..ha…… = = = =(Karya : Ahmad Fanani Mosah,

Broadcaster Radio Arsega FM & Guru SMP Negeri 3 Babat- Lamongan).

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

 

 

BIODATA NARASI

Nama yang sering terpajang di media cetak tertulis AHMAD FANANI MOSAH. Kemudian di kolega dekatnya menyapa dengan panggilan Bung Mosah. Padahal nama belakang itu adalah akronim dari kedua orangtuanya : Mosin & Muslihah (Mosah). Tampaknya inilah yang menjadi hoki tersendiri bagi pria yang sering bercuap-cuap di udara Radio Arsega FM dan di blantika panggung entertainment. Pak guru yang berdinas di SMP Negeri 3 Babat – Lamongan itu punya tanggal lahir 15 September 1963. Berzodiac Virgo Boy. Bagi yang ingin berdialog lewat HP/WA akan dilayani dengan senang hati : 085749836848. Karya literasinya sudah banyak yang diterbitkan UIN Maliki Press Malang, antara lain : “Beginilah Seharusnya” , “Kumpulan Dongeng Anak-anak”, “Kumpulan Cerpen Remaja”, Novel “Impian Bulan Bercahaya Di Korea”, Buku Materi “Pembinaan Karakter Anak Bangsa”, “Lagu-lagu Islami & Pramuka”,  dsb.  = = = = = = =

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAK HAMPA DENGAN PUASA

  Oleh : Ahmad Fanani Mosah (Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan – Jawatimur)     TIRAKAT DAN JAPA MANTRA MASIH TERNGIANG DARI MOYANG...