Senin, 08 Agustus 2022

Refleksi HUT PGRI Ke 58, Tanggal 25 Nopember 2003 : DAN SUARA SUMBANG ITUPUN TUMBANG

 

Refleksi HUT PGRI Ke 58, Tanggal 25 Nopember 2003 :

DAN SUARA SUMBANG ITUPUN TUMBANG

 

Oleh : Ahmad Fanani Mosah *)

(Guru SMP Negeri 3 Babat & Pengurus PGRI Cabang Babat)

 

PARA guru, melalui wadah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) kini, tepatnya tanggal 25 Nopember 2003 sedang ber HUT ke 58. Berarti usianya  sama dengan proklamasi kemerdekaan RI. Perkumpulan para “kuli kapur” itu, disamping sebagai organisasi profesi, juga mengembangakan sayapnya menjadi organisasi sosial dan ketenagakerjaan, yang tentu saja berangkat dari organisasi perjuangan.

Demi keutuhan dan kebersamaannya dalam meningkatkan karier para pendidik, oganisasi yang berlambang obor itu tidak mematok salah satu partai politik yang ada. PGRI tetap independen. Para guru dipersilahkan memilih aspirasi politik yang ada, sesuai dengan nuraninya. Tetapi ketika kembali berprofesi sebagai guru, masih tetap satu “baju” yakni PGRI, sebagai sarana berpengabdian, berdedikasi dan berkinerja dengan baik. Dengan demikian perkumpulan ini tidak hanya milik guru-guru negeri saja, tetapi juga milik guru-guru swasta yang turut andil dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

 

Samar-samar di balik Layar

Sudah menjadi issue nasional bagi kaum PGRI yang awam, bahwa wadah oraganisasinya itu identik dengan urunan, tarikan, iuran, potong gaji, bikin kalender, pengkreditan kain seragam dan segala macam tuduhan yang bernada sumbang. Tidak jarang rekan-rekan kita mencibirkan bibir pertanda sinis, ketika mendapat undangan rapat tentang ke-PGRI-an.  Dengan muka ditekuk persis kayak onta, lantas dalam benak mereka ngedumel  dalam hati sambil berkata : bangsat ! pungutan apalagi ? (maaf, pinjam bahasanya Gombloh).

 

Sesungguhnya sejuta dilema menghantui anggota. Ingin keluar dikira oposisi, mau vokal takut birokrasi. Akhirnya jadilah anggota yang pasip, apatis menuruti kata opo jare, mengikuti sinuwun yang lagi sendiko dhawuh, dan seterusnya. Efek berikutnya adalah : terjadinya rasan-rasan diantara teman. Mereka ngerumpi dengan parter bicaranya masing-masing. Meski ada pula yang menjadikan hasil rasanan itu diformalkan. Paling banter semacam inilah upaya memberangus semua anggapan yang bernada  minir itu.

Sebetulnya pula  bahwa  apa yang dilakukan oleh PGRI itu seolah tak tampak. Hal ini sesuai dengan prinsip bersedekah yang digariskan oleh Rosululloh Saw melalui haditsnya : apabila kamu memberi seseorang dengan tangan kanan, jangan sampai diketahui oleh tangan kirinya.

Oleh sebab itu, rata-rata perjuangan dan peranan PGRI adalah di balik panggung. Misalnya : beras yang dulu pemah dipergunjingkan gara-gara tingkat kejelekannya tidak sesuai dengan anggaran yang tersedia, maka PGRI menuruti kata hati para pemerhati, sehingga beras jatah itu diuangkan. Termasuk orang-orang pusat sana (pengurus) mengusulkan adanya penambahan tunjangan anggaran pendidikan, dll. Itu semua adalah jerih payah PGRI

Selayaknya keberhasilan dan kenikmatan ini senantiasa kita syukuri. Bila tidak, kita akans diancam oleh Alloh : la-insakartum la-azidannakum wala-inkafartum inna ‘adzaabii la-syadiid (jika kamu mau bersukur atas nikmat-Ku, niscaya akan Aku tambah. Tapi bila kamu mengingkari, maka siksa-Ku amat pedih).

 

 

Formulasi Ilmu, Guru dan Ortu

Asal tahu saja, bahwa hasil pendidikan dari guru itu jangka panjang. Tidak bisa langsung dirasakan sekarang. Bahkan sampai orangnya meninggalpun belum tahu hasilnya. Hal ini senada seirama dengan pesan nabi yang mengungkapkan, bahwa ada 3 (tiga) orang tua yang harus dihormati.

Siapakah mereka ? 1. Orang tua yang melahirkan kita, yakni ibu. 2. Orang yang memang umurnya lebih tua dari kita. 3. Orang yang memberi ilmu kepada kita. Nomor terakhir inilah yang harus mendapat penghormatan lebih, dibanding 2 orang sebelumnya.

Terkait dengan  moral pendidikan, terkadang timbul pertanyaan, bagaimana bila ada guru yang demo ? (Sebagaimana beberapa tahun yang lalu) Hal ini bisa kita tepis, bahwa bila ada guru yang demo, maka demo itu adalah salah satu sistim pembelajaran. Dengan fenomena ini guru—melalui PGRI—jangan dianggap sebagai alat birokrasi. Sebab para pahlawan tanpa tanda jasa itu   adalah jabatan fungsional di republik ini. Tampakanya julukan ini sudah kadung melekat di hati rakyat, mesklipun tidak jarang hadiah kenang-kenangan dari orba ini bikin para guru sambat.

Bertolak dari sejarah, ternyata Indonesia mempunyai catatan penting di mata guru sedunia. Tahun 1979 sekitar 169 negara mengikuti konggres guru se-dunia. Dari jasa sejarah itu bisa kita nikmati hingga sekarang. Satu lagi asset yang kita miliki, bahwa kita punya gedung guru Indonesia di Jakarta. Adapun kalau di Jawatimur adalah  adanya wisma guru/PGRI yang ada di Surabaya.

Dari siratannya saja pofesi ini menuntut adanya panggilan jiwa. Dari sebutan  atau julukan itu logikanya guru harus dijunjung tinggi. Dosen senior pun nggak mau disebut dosen besar. Tapi guru besar. Atau maha guru, bukan maha dosen. Untuk itu banyak perguruan tinggi yang dosennya masuk anggota PGRI semisal ITB, Unair,dsb. Kecuali STPDN yang baru saja berkasus itu, tidak seoangpun dosennya sudi masuk PGRI. Tentu hal ini nampak sangat ironi sekali. Semoga ini pula yang pelu mendapat perhatian dari orang-orang yang berkompeten di permasalahannya.

Satu lagi yang menjadi garapan pemikiran kita adalah : mengapa guru-guru yang mengajar di SD kok tidak mendapat tunjangan kelebihan jam mengajar ? Sedangkan guru-guru yang bertugas mengajar di tingkat SMP dan SMA mendapat tunjangan kelebihan jam mengajar. Padahal tugasnya sama-sama berat.  Bahkan boleh dikatakan lebih berat menghadapi anak-anak seusia SD dari pada menghadapai anak-anak seusia SMP atau SMA.

Lebih parah lagi  bila kita menengok bangunan gedung-gedung SD, SMP, SMA maupun sarana pendidikan lain milik perintah, yang notabene sangat tidak cocok dengan bestek. Sehingga mudah rusak dan amburadul. Efek berikutnya yang dituding bikin kesalahan adalah guru. Sebab di mata oangtua/walimurid, guru adalah segala-galanya. Dari kejadian ini sewajarnya bila ada penawaran bagaimana jika PGRI dilibatkan dalam soal pengawasan bangunan fisik yang terkait dengan sarana/prasarana pendidikan.

Kita tahu bahwa tugas PGRI itu amat sangat berat. Seolah sah-sah saja mengadakan pengawasan dan melompat ke arah sana yang lebih jauh, namun apa boleh buat. Banyak yang menghadang. Suatu missal birokrasi dan lain-lain. Makanya ada sorotan yang menilai, guru kok demo ! Kuncina satu : sebab tidak ada perhatian dari pemerintah.

Itulah secercah harapan, impian, seluk beluk dan suka duka guru, melalui wadah yang kokoh, PGRI yang kini sedang ber-ultah ke 58 tahun. Wahai para “kulikapur”, tabahkanlah hatimu, mantapkanlah niatmu dalam ber mission-sacree. Ingat: Guru bukan segalanya, namun tanpu guru segalanya tiada makna.

*) (Ahmad Fanani Mosah Adalah Pengurus PGRI Cabang Babat

     dan Guru SMP Negeri 3 Babat)

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TAK HAMPA DENGAN PUASA

  Oleh : Ahmad Fanani Mosah (Guru SMP Negeri 3 Babat – Lamongan – Jawatimur)     TIRAKAT DAN JAPA MANTRA MASIH TERNGIANG DARI MOYANG...