Refleksi HUT
PGRI Ke 58, Tanggal 25 Nopember 2003 :
DAN SUARA SUMBANG ITUPUN TUMBANG
Oleh : Ahmad Fanani Mosah *)
(Guru SMP Negeri 3 Babat & Pengurus PGRI Cabang Babat)
PARA guru,
melalui wadah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) kini, tepatnya tanggal
25 Nopember 2003 sedang ber HUT ke 58. Berarti usianya sama dengan proklamasi kemerdekaan RI.
Perkumpulan para “kuli kapur” itu, disamping sebagai organisasi profesi, juga
mengembangakan sayapnya menjadi organisasi sosial dan ketenagakerjaan, yang
tentu saja berangkat dari organisasi perjuangan.
Demi
keutuhan dan kebersamaannya dalam meningkatkan karier para pendidik, oganisasi
yang berlambang obor itu tidak mematok salah satu partai politik yang ada. PGRI
tetap independen. Para guru dipersilahkan memilih aspirasi politik yang ada,
sesuai dengan nuraninya. Tetapi ketika kembali berprofesi sebagai guru, masih
tetap satu “baju” yakni PGRI, sebagai sarana berpengabdian, berdedikasi dan
berkinerja dengan baik. Dengan demikian perkumpulan ini tidak hanya milik
guru-guru negeri saja, tetapi juga milik guru-guru swasta yang turut andil
dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa.
Samar-samar di balik Layar
Sudah menjadi issue nasional bagi
kaum PGRI yang awam, bahwa wadah oraganisasinya itu identik dengan urunan,
tarikan, iuran, potong gaji, bikin kalender, pengkreditan kain seragam dan
segala macam tuduhan yang bernada sumbang. Tidak jarang rekan-rekan kita
mencibirkan bibir pertanda sinis, ketika mendapat undangan rapat tentang
ke-PGRI-an. Dengan muka ditekuk persis
kayak onta, lantas dalam benak mereka ngedumel
dalam hati sambil berkata : bangsat ! pungutan apalagi ? (maaf, pinjam
bahasanya Gombloh).
Sesungguhnya
sejuta dilema menghantui anggota. Ingin keluar dikira oposisi, mau vokal takut
birokrasi. Akhirnya jadilah anggota yang pasip, apatis menuruti kata opo
jare, mengikuti sinuwun yang lagi sendiko dhawuh, dan
seterusnya. Efek berikutnya adalah : terjadinya rasan-rasan diantara teman.
Mereka ngerumpi dengan parter bicaranya masing-masing. Meski ada pula
yang menjadikan hasil rasanan itu diformalkan. Paling banter semacam inilah
upaya memberangus semua anggapan yang bernada
minir itu.
Sebetulnya
pula bahwa apa yang dilakukan oleh PGRI itu seolah tak
tampak. Hal ini sesuai dengan prinsip bersedekah yang digariskan oleh
Rosululloh Saw melalui haditsnya : apabila kamu memberi seseorang dengan tangan
kanan, jangan sampai diketahui oleh tangan kirinya.
Oleh sebab
itu, rata-rata perjuangan dan peranan PGRI adalah di balik panggung. Misalnya :
beras yang dulu pemah dipergunjingkan gara-gara tingkat kejelekannya tidak
sesuai dengan anggaran yang tersedia, maka PGRI menuruti kata hati para
pemerhati, sehingga beras jatah itu diuangkan. Termasuk orang-orang pusat sana
(pengurus) mengusulkan adanya penambahan tunjangan anggaran pendidikan, dll.
Itu semua adalah jerih payah PGRI
Selayaknya
keberhasilan dan kenikmatan ini senantiasa kita syukuri. Bila tidak, kita akans
diancam oleh Alloh : la-insakartum la-azidannakum wala-inkafartum inna
‘adzaabii la-syadiid (jika kamu mau bersukur atas nikmat-Ku, niscaya akan
Aku tambah. Tapi bila kamu mengingkari, maka siksa-Ku amat pedih).
Formulasi
Ilmu, Guru dan Ortu
Asal tahu
saja, bahwa hasil pendidikan dari guru itu jangka panjang. Tidak bisa langsung
dirasakan sekarang. Bahkan sampai orangnya meninggalpun belum tahu hasilnya.
Hal ini senada seirama dengan pesan nabi yang mengungkapkan, bahwa ada 3 (tiga)
orang tua yang harus dihormati.
Siapakah
mereka ? 1. Orang tua yang melahirkan kita, yakni ibu. 2. Orang yang memang
umurnya lebih tua dari kita. 3. Orang yang memberi ilmu kepada kita. Nomor terakhir
inilah yang harus mendapat penghormatan lebih, dibanding 2 orang sebelumnya.
Terkait
dengan moral pendidikan, terkadang
timbul pertanyaan, bagaimana bila ada guru yang demo ? (Sebagaimana beberapa
tahun yang lalu) Hal ini bisa kita tepis, bahwa bila ada guru yang demo, maka
demo itu adalah salah satu sistim pembelajaran. Dengan fenomena ini guru—melalui
PGRI—jangan dianggap sebagai alat birokrasi. Sebab para pahlawan tanpa tanda
jasa itu adalah jabatan fungsional di
republik ini. Tampakanya julukan ini sudah kadung melekat di hati
rakyat, mesklipun tidak jarang hadiah kenang-kenangan dari orba ini bikin para
guru sambat.
Bertolak
dari sejarah, ternyata Indonesia mempunyai catatan penting di mata guru
sedunia. Tahun 1979 sekitar 169 negara mengikuti konggres guru se-dunia. Dari
jasa sejarah itu bisa kita nikmati hingga sekarang. Satu lagi asset yang kita
miliki, bahwa kita punya gedung guru Indonesia di Jakarta. Adapun kalau di
Jawatimur adalah adanya wisma guru/PGRI
yang ada di Surabaya.
Dari
siratannya saja pofesi ini menuntut adanya panggilan jiwa. Dari sebutan atau julukan itu logikanya guru harus
dijunjung tinggi. Dosen senior pun nggak mau disebut dosen besar. Tapi guru
besar. Atau maha guru, bukan maha dosen. Untuk itu banyak perguruan tinggi yang
dosennya masuk anggota PGRI semisal ITB, Unair,dsb. Kecuali STPDN yang baru
saja berkasus itu, tidak seoangpun dosennya sudi masuk PGRI. Tentu hal ini
nampak sangat ironi sekali. Semoga ini pula yang pelu mendapat perhatian dari
orang-orang yang berkompeten di permasalahannya.
Satu lagi
yang menjadi garapan pemikiran kita adalah : mengapa guru-guru yang mengajar di
SD kok tidak mendapat tunjangan kelebihan jam mengajar ? Sedangkan
guru-guru yang bertugas mengajar di tingkat SMP dan SMA mendapat tunjangan
kelebihan jam mengajar. Padahal tugasnya sama-sama berat. Bahkan boleh dikatakan lebih berat menghadapi
anak-anak seusia SD dari pada menghadapai anak-anak seusia SMP atau SMA.
Lebih parah
lagi bila kita menengok bangunan
gedung-gedung SD, SMP, SMA maupun sarana pendidikan lain milik perintah, yang
notabene sangat tidak cocok dengan bestek. Sehingga mudah rusak dan amburadul.
Efek berikutnya yang dituding bikin kesalahan adalah guru. Sebab di mata
oangtua/walimurid, guru adalah segala-galanya. Dari kejadian ini sewajarnya
bila ada penawaran bagaimana jika PGRI dilibatkan dalam soal pengawasan bangunan
fisik yang terkait dengan sarana/prasarana pendidikan.
Kita tahu
bahwa tugas PGRI itu amat sangat berat. Seolah sah-sah saja mengadakan
pengawasan dan melompat ke arah sana yang lebih jauh, namun apa boleh buat.
Banyak yang menghadang. Suatu missal birokrasi dan lain-lain. Makanya ada
sorotan yang menilai, guru kok demo ! Kuncina satu : sebab tidak ada perhatian
dari pemerintah.
Itulah
secercah harapan, impian, seluk beluk dan suka duka guru, melalui wadah yang
kokoh, PGRI yang kini sedang ber-ultah ke 58 tahun. Wahai para “kulikapur”,
tabahkanlah hatimu, mantapkanlah niatmu dalam ber mission-sacree. Ingat:
Guru bukan segalanya, namun tanpu guru segalanya tiada makna.
*) (Ahmad Fanani
Mosah Adalah Pengurus PGRI Cabang Babat
dan Guru SMP Negeri 3 Babat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar